Pengertian dan wawasan tentang diri manusia pada
hakekatnya dimulai dari awal permulaan eksistensinya yaitu pemahaman tentang
dunia anak-anak. Pengalaman- pengalaman masa anak-anak itu merupakan
landasan dasar bagi pembentukan kepribadiannya saat sekarang maupun saat dewasa
nanti. Dengan begitu “masa anak” itu menjadi bagian yang esensial dari
eksistensinya sebagai manusia yang mempunyai MAKNA dan ARTI mendalam.
Adakah anak itu memberikan ARTI tertentu bagi orang
tuanya ? Ya, tidak dapat disangkal lagi bahwa anak itu memberikan arti dan
pengaruh tertentu pada orang tuanya.
“Memberikan isi, nilai, kepuasan, kebanggaan dan rasa penyempurnaan diri.
Rasa kepuasan diri dan penyempurnaan diri disebabkan keberhasilan orang tua
(terutama sang ibu) yang telah melahirkan anak keturunan , yang akan
melanjutkan semua cita-cita, harapan dan eksistensi hidupnya.
Hakekat anak adalah menuntut adanya rawatan, keamanan, pemeliharaan,
pertolongan, bimbingan, pendidikan dan pertanggungjawaban sepenuhnya dari orang
tuanya atau dapat diartikan adanya pengaruh timbal balik diantara orang tua dan
anaknya atau yang lebih human (insaniah) yaitu relasi antara pendidik dengan
anak didiknya. Oleh
karena itu sebagai orang tua haruslah bersikap lebih bijaksana serta
berhati-hati dalam memberikan tuntunan dan pendidikan kepada anak-anak sendiri
dan anak-anak didik lainnya pada umumnya.
Berbekal pada literasi
di atas, saya mencoba berbagi kisah pengalaman pribadi tentang bagaimana
menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Keberanian menuliskan kisah ini karena
terinspirasi lewat tulisan Bunda Aan Wulandari, yang berjudul Ananda
’Dikhianati’ Teman yang dimuat di Koran Republika pada rubrik Buah Hati, dimana
bunda Aan tidak pernah lelah mendampingi dan memberi pemahaman kepada anak
terhadap sesuatu. Saat membaca rubrik itu, tiba-tiba angan melamun jauh dan
teringatlah 9 tahun yang lalu saat mendampingi putri kecilku Nur Annisa
Damayanti (Nisa) berusia 4 tahun. Di usia itu, ia sudah bersekolah pada jenjang
TK A salah satu sekolah Islam di Surabaya. Awal masuk sekolah, ia adalah anak
yang pemalu jika dilihat secara kasat mata, pendiam dan tidak berani menatap
orang, kenapa saya mengatakan demikian karena saat awal masuk sekolah, ia bersembunyi
di belakang badan saya agar tidak terlihat gurunya, tidak hanya itu selama
seminggu saya harus ikut bersekolah di ruang kelas. Sungguh pengalaman yang
tidak terlupakan sebagai mama untuknya. Dengan berjalannya waktu, proses
mengubah karakter sifat tertutup dan pemalu secara terus-menerus saya lakukan
bersama papanya sebagai tim yang solid, dari mulai ada tamu atau orang baru
yang dikenal, kami membiasakan untuk “salim” {bahasa jawa-pen} artinya berjabat tangan dan mencium tangan, sebagai bentuk
kontak awal dalam bersosialisasi dengan lingkungannya, sampai pada membiasakan
Nisa agar berani mengemukakan pendapat dalam lingkungan keluarga misalnya mau makan
apa, mau pergi kemana dsb. Kami tahu bahwa mengubah karakter sifat tertutup dan
pemalu pada anak usia dini tidaklah semudah kita membalikkan telapak tangan, tapi
membutuhkan proses dan komitmen yang tinggi sebagai orang tua. Dan hal ini,
kami tidak pantang menyerah.
Teringat suatu waktu, saat kami sering melihat
Nisa bercermin di kaca dengan berbagai gaya atau pose yang kadang membuat saya (terutama sebagai mama yang selalu
mendampinginya) tersenyum sendiri. Ternyata putri kecilku pandai bergaya juga.
Jalan berlenggak-lenggok dengan sepatunya, layaknya seperti peragawati yang
sedang fashion show.
Hii...hii....lucu juga melihatnya, apa waktu kecil saya juga seperti itu
ya...hehehe. Akhirnya pada suatu hari, saya tercetus sebuah ide setelah melihat
foto koleksi Nisa di album foto keluarga, tanpa memberitahunya kukirim salah
satu foto yang menurut saya layak untuk ajang lomba foto. Ajang ini bertajuk
Kids Competition Talent di Royal Plaza Surabaya, 17 Mei 2007 dan ternyata
sesuai dugaan saya, putri kecilku mendapatkan Juara III kategori Action dan ia layak berdiri di atas
panggung untuk menerima piala. Itulah awal kepercayaan diri putri kecilku mulai
muncul, dari ikut berbagai lomba foto, ikut menjadi foto model suatu produk,
ikut fashion show peragaan busana
Batik, sampai mencoba talent baru
yaitu menyanyi, menari tari tradisional dan dance,
semuanya telah dicoba tanpa ada paksaan dari orang tua. Semakin bangganya kami
sebagai orang tua, setelah melihat putri kecilku yang dulunya sangat tertutup
dan pemalu tapi sekarang banyak prestasi yang diraihnya yaitu Juara I Foto Action Pemilihan Putra Putri
BRITAMA 2007 di Pakuwon Trade Center Surabaya, Juara II Fashion Modelling
Sanjaya Studio Model, Juara II Foto Ceria Tralala 2009, berkesempatan menjadi
penyanyi latar bersama Rio Febrian pada event
Berbagi Cinta Bersama Dancow 2010, berkesempatan berfoto bersama dengan Cak
Ning Surabaya pada event Majapahit
Travel Fair 2009, berkesempatan berfoto dengan Gubernur Jawa Timur Bapak
Soekarwo pada event Hari Cuci Tangan
Sedunia 2010 dan pengalaman-pengalaman lainnya yang akan menjadi cerita dalam
kehidupannya di usia itu, dan hal ini secara tidak langsung sangat mempengaruhi
prestasi di sekolahnya yang selalu mendapatkan ranking 5 besar. Semakin melengkapi
kebanggaan kami sebagai orang tua, dengan diraihnya Top Ten Lulusan Terbaik
salah satu SD Islam di Surabaya kategori Lulusan Terbaik dengan Jumlah UN
Terbaik, Lulusan Terbaik dengan Nilai UN Sempurna dan Lulusan Terbaik kategori
Hafal Juzamah Terbaik. Sungguh kebahagiaan yang tidak bisa kami lukiskan. Semoga
pengalaman-pengalaman ini menjadi cerita menarik dan terindah buatmu putri
kecilku di usia (6-12) tahun.
Di masa peralihannya sekarang atau lebih dikenal
masa remaja, kami juga berkomitmen untuk tidak pernah lelah mendampinginya.
Sekarang ini ia berusia 13 tahun dan bersekolah di jenjang SMP kelas 2. Pola
asuh kami yang membiasakan untuk tidak memaksakan kehendak akan sesuatu kepada
anak-anak, apapun pilihannya asal tidak menyimpang dan keluar jalur tidak
begitu kami permasalahkan. Terciptanya kenyamanan dalam asuhan menjadikan putri
kecilku semakin muncul rasa percaya dirinya. Namun ada satu hal yang selalu
kami tekankan untuk anak-anak yaitu kedisiplinan waktu, komitmen dan tanggung
jawab terhadap suatu pilihan. Semoga hal ini bisa dimengerti olehnya di masa
peralihan usianya yang semakin banyak pengaruh globalisasi media dan budaya luar
misalnya facebook, twitter, instagram,narkoba, kebebasan dsb. Saat usianya
menginjak 13 tahun dan mulai adaptasi dengan kota baru yaitu Semarang, ia
mencoba talent baru sebagai seorang
pianis, dan Alhamdulillah ia
berkesempatan juga tampil pada event
yang bertajuk Konser Musik Imlek Kampoeng Semawis 2013 pada tanggal 23 Februari
2013. Di sekolahnya, ia juga masuk dalam kepengurusan OSIS dan ikut ekstra
kurikuler Paskibra. Adaptasi yang perlu kami acungin jempol untuk usia anak 13
tahun karena mengikuti mutasi pekerjaan orang tuanya. Budaya, teman dan sekolah
baru otomatis menjadi resiko buatnya, semoga semangat selalu ada dalam
kehidupannya.
Dengan berbagi kisah pengalaman pribadi ini, kami berharap
dan ingin menyampaikan kepada orang tua khususnya bunda bahwa buah hati kita
adalah sangat berharga, jangan dilewatkan sedikitpun masa pertumbuhannya,
dampingilah terus tanpa kenal lelah karena buah hati kita adalah investasi
jangka panjang dan merupakan amanah terbesar dari Tuhan YME. Didiklah mereka dengan
penuh kasih sayang, tanpa tekanan, berikan kenyamanan dalam lingkungan keluarga.
Jadikan mereka pribadi mandiri dengan perbedaan pendapat yang mereka miliki, maka
mereka akan tumbuh dengan sempurna dan penuh rasa percaya diri dengan segala
kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki.
Di
tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad yang tak takluk pada gelombang,
Menjelma
burung, yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan;
Di
mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci;
“Tuan,
jangan kau ganggu permainanku.”
(Sapardi Djoko Damono)
Sumber literatur :
1. DR.Kartini Kartono, Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan),Penerbit Mandar Maju/1995/Bandung
2. Website Catur SetioWargo,Hakikat Anak Sebagai Manusia
3. Website Hakikat Anak dalam Al-Qur;an - quranlearningcentre.com
Sumber literatur :
1. DR.Kartini Kartono, Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan),Penerbit Mandar Maju/1995/Bandung
2. Website Catur SetioWargo,Hakikat Anak Sebagai Manusia
3. Website Hakikat Anak dalam Al-Qur;an - quranlearningcentre.com
Bagus sekali Bunda, ditunggu tulisan-tulisan berikutnya ya...
ReplyDeleteThankyuuu pak Jimmy Han hehehe...always support me :)
ReplyDelete