| Penyerahan Mahar |
16 tahun yang lalu, tepatnya Hari Jum’at, 28
Januari 1999 M atau 10 Syawal 1419 H.
Bukan suatu kebetulan hari pernikahan kami
adalah hari Jum’at, karena memang sengaja menjadi pilihan kami berdua.
Mengingat
ada yang melatar belakanginya yaitu ada 10 keutamaan pada hari Jum’at,salah
satu diantaranya, yaitu :
Karena bahwasanya ia adalah sebaik-baik hari.Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu dari Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam beliau bersabda,خير يوم طلعت عليه الشمس يوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه أدخل الجنة وفيه أخرج منها ولا تقوم الساعة إلا في يوم الجمعة”Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya (hari cerah) adalah hari Jum’at, (karena) pada hari ini Adam diciptakan, hari ini pula Adam dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan darinya, dan tidaklah akan datang hari kiamat kecuali pada hari Jum’at.” (HR Muslim).
Dengan berbekal pada keutamaan itu dan ridhoNYA tentunya,aku mantapkan keyakinan untuk berlabuh dengannya, seorang pria yang bernama Muhamad Jumhan.
Awalnya ada
keraguan, jujur ya pa hihihi…, ini orang kok pendiam banget sich, bisa ngomong
nggak ya, satu sisi aku juga tipe wanita yang nggak suka banyak bicara. Lah
terus gimana caranya kita berkomunikasi, pake bahasa tubuhkah hehehe…
Belum lagi banyak
perbedaan yang pastinya perlu ekstra kesabaran bahkan menurunkan ego dari
masing-masing pasangan *hmmmmmm rasanya banyak PR dan tugas Negara nich…
Namun diluar
keraguan yang menyelimutiku, ada 3 hal karakter dan 1 komitmen bersama yang aku
yakini. 3 hal karakter itu adalah dia orangnya penyabar, penuh
pertimbangan dan pandai. Sedangkan 1
komitmen bersama adalah dia memperbolehkanku untuk bekerja selama saya mampu
membagi waktuku dengan tugas sebagai seorang istri ataupun ibu nantinya. Dan jika resign itu adalah pilihanku sendiri.
Mengenai awal dia terlihat pemalu atau pendiam itu adalah karakter, InsyaAllah pasti
bisa dirubah dengan berjalannya waktu, saling berkomunikasi dan saling mendukung satu sama lain.
| Bapak memberikan mandatnya kepada Wali Hakim |
| Ijab Kabul "Ikrar Janji Suamiku kepada Sang Khaliq" |
| Pembacaan Buku Nikah |
Tepatnya Jumat, 28 Januari 1999, pukul 09.00 WIB Kami berikrar janji
menjadi suami istri, seperti yang tersirat pada SIM (Surat Ijin Menikah) alias
Buku Nikah ini, Dihadiri oleh 2 keluarga yang berbeda adat istiadat dan
kebudayaan, walaupun sama-sama dari Jawa, dia dari Jawa Tengah, aku dari Jawa
Timur, bertemunya di Jawa Barat hihihi sekilas info…numpang iklan lewat.
Saya pastikan kami
adalah dua sisi yang berbeda.Beda adat istiadat, beda kebudayaan, beda
kebiasaan dan itulah uniknya. Tuhan menyatukan perbedaan itu dengan kuasaNYA.
Sebagai seorang pasangan, kami mempunyai hak dan kewajiban masing-masing,Apakah hak dan kewajiban sebagai seorang suami dan istri ?
Hal ini tertuang
pada Buku Nikah yang dengan jelas dijabarkan, sengaja aku tuliskan kembali,
agar aku selalu mengingatnya dan berharap juga bermanfaat bagi yang membaca.
Karena bisa jadi,
pengalaman pribadi nich hehehe…Buku Nikah ini didengar dan hanya dibaca sekali
pada awal pernikahan, selanjutnya pasti tersimpan rapi di File Pribadi atau
kalau nggak sekali-kali difotocopy untuk keperluan administasi kependudukan
atau administrasi lainnya. Bener nggak ….
Karena itu kucoba
untuk menuliskan kembali scr detail, berikut hasil intipanku di Buku Nikahku
sendiri :
Hak Bersama Suami Istri :1. Suami istri mempunyai hak seimbang dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat2. Masing-masing suami istri dapat melakukan perbuatan hukum3. Halalnya hubungan sebagai suami istri4. Menjalankan kekuasaan orang tua terhadap anak-anak yang belum berumur 18 tahun atau belum pernah kawin5. Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya, masing-masing dapat mengajukan gugatan ke pengadilan6. Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama7. Apabila cukup alasan hukum tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri, suami dapat mengajukan permohonan talak, sedang istri dapat melakukan gugatan cerai pada pengadilanHak Suami :1. Suami adalah kepala rumah tangga.2. Harta bawaan yang diperoleh sebagai hadiah atau warisan adalah dibawah penguasaannya, sepanjang tidak ditentukan lain oleh suami istri.Hak Istri :1. Istri adalah ibu rumah tangga2. Memperoleh keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuan suami3. Memperoleh perlindungan dan perlakuan yang baik dari suami4. Memperoleh kebebasan berfikir dan bertindak sesuai dengan batas-batas yang ditentukan dalam ajaran agama dan norma sosial5. Harta bawaan yang diperoleh sebagai hadiah atau warisan adalah di bawah penguasaannya, sepanjang tidak ditentukan lain oleh suami istri.Kewajiban Bersama Suami Istri :1. Menegakkan rumah tangga2. Harus mempunyai tempat kediaman yang tetap3. Saling mencintai, menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin.4. Saling memelihara kepercayaan dan tidak saling membuka rahasia pribadi5. Sabar dan rela atas kekurangan dan kelemahan masing-masing6. Selalu bermusyawarah untuk kepentingan bersama7. Memelihara dan mendidik anak penuh tanggung jawab8. Menghormati orang tua dan keluarga kedua belah pihak9. Menjaga hubungan baik bertetangga dan bermusyawarahKewajiban Suami :1. Memimpin dan membimbing keluarga lahir batin2. Melindungi istri dan anak-anak3. Memberikan nafkah lahir dan batin sesuai dengan kemampuan4. Mengatasi keadaan dan mencari penyelesaian secara bijaksana serta tidak bertindak sewenang-wenang5. Membantu tugas istri dalam mengatur urusan rumah tanggaKewajiban Istri :1. Menghormati dan mencintai suami2. Mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya3. Memelihara dan menjaga kehormatan rumah tangga
Dari beberapa hal di
atas, yang menjadikan mata ini langsung “melek” (bahasa Jawa – red) adalah pada
saat membaca Kewajiban Bersama Suami Istri.
Pada Buku Nikah
tersebut disebutkan ada 9 hal yang menjadikan kewajiban Suami Istri dan
sembilan hal itulah yang merupakan tonggak keberhasilan sebuah pernikahan yaitu
pernikahan Sakinah mawadah wa rahmah.
Setelah menerima Buku
Nikah ini dan kami genggam dengan tangan masing-masing, sambil sesekali
terlihat jepretan kamera untuk diabadikan, kucoba untuk meyakinkan kembali
walaupun banyak ketakutan atau nervous mungkin ya, aku ucapkan Bismillahirrohmanirrohiim
dalam hati dan aku yakin dengan istikharaku.
| Pasangan Pisces dan Cancer |
Saling mencintai,
saling memelihara kepercayaan dan saling menghormati itulah langkah awal aku
menjalankan pernikahan ini.
5 tahun pertama masa
kami untuk beradaptasi. Adaptasi dari berbagai hal, dari makanan,
hobbi,kebiasaan, sudut pandang terhadap sesuatu, cara menyelesaikan masalah dan
sebagainya. Saat aku menuliskan ini, aku tersenyum sendiri, pernikahan itu
seru, lucu juga, penuh tantangan dan kadang menjengkelkan. Hi…hi…hi…
Di 5 tahun pertama,
kucoba untuk berbagi cerita, hal yang menjengkelkan awalnya tapi menjadikanku
dewasa dan mengerti arti komunikasi serta arti menerima kekurangan dan kelebihan dari pasangan kita.
Suatu waktu aku
sakit, kebiasaan dalam keluarga besarku, jika aku sakit, mama sangat panik dan
sangat memperhatikan anak-anaknya, dan bentuk perhatian itu adalah menyuapi
makanan, menungguinya, menanyakannya dan memberi obat. Dan tentunya kebiasaan
itu melekat di diriku dan membayangkan hal itu akan terjadi juga dalam
kehidupan rumah tanggaku. Namun, alhasil yang terjadi, suamiku hanya berdiri di
depan pintu, sambil bertanya “ Gimana dik sakitnya, udah enakan belum, tanpa
ada sentuhan dahi atau tangan”………..hmmmm jika waktu itu ada aplikasi BBM, pastinya udah
muka geram dan warna merah sebagai statusku, walaupun tidak perlu dishare
hehehe….
Waktu itu aku hanya
bisa geram, menggerutu dan menangis. Di satu sisi suamiku tidak tahu apa yang
salah di dirinya…..
Berjalannya waktu
dan kok kebetulan juga, bukan karena aku berdoa dan mau balas dendam nich, Suamiku
sakit dan hal itu menjadikan suamiku tahu, apa yang dimaksud dengan kemarahan
yang terjadi saat aku sakit dulu.
Pada saat suamiku
sakit, aku mencoba untuk merawatnya dengan baik seperti yang diajarkan orang
tuaku waktu kecil dan ternyata berhasil dan itu yang kumaksud “suamiku berkata,
dik ternyata orang sakit itu bukan dari obat ya, tapi perhatian itu juga hal
penting untuk sembuh”. Alhamdulillah, akhirnya suamiku mengerti.
Dari situlah,
suamiku bercerita panjang lebar kenapa waktu aku sakit dulu dia tidak bisa
berbuat apa-apa, bukan karena dia tidak sayang cuman nggak tahu harus gimana
karena dia terbiasa mandiri dan waktu itu ibu bekerja, sehingga saat dia sakit,
ibu biasanya hanya berkata “Han, udah makan dan obatnya sudah diminum”, saat
mendengar itu, aku tersenyum. Dalam hati aku berkata, walaupun ibu tidak
mengajarkan itu secara detail bagaimana memperlakukan seorang wanita, tapi
secara umum kamu sudah sangat baik memperlakukanku.
Alhamdulillah 5
tahun pertama pernikahan berjalan dengan baik, walaupun memang seperti Tom and
Jerry hehehe…masih saling berselisih paham dan bertengkar melulu...namun sedikit demi sedikit menjadi
pembelajaran kami berdua menuju kedewasaan dan kematangan berfikir.
5 tahun pertama
pernikahan, kami dikaruniai seorang putri, Nur Annisa Damayanti, tepatnya
tanggal 13 Agustus 2000.Anugerah terindah karena kami diamanahi seorang anak
dan hal ini Kewajiban kami untuk memelihara dan mendidiknya.
5 tahun kedua
pernikahan, kami jalani dengan penuh rintangan, kesabaran dan tentunya
komunikasi serta saling pengertian terus kami lakukan, walaupun itu butuh
proses yang panjang dan tidak instant.
Pada 5 tahun kedua
pernikahan, kami dikaruniai seorang putra, Muhamad Gibran Maulana, tepatnya
tanggal 1 Juli 2008. Anugerah terindah dan lengkap sudah menjadi seorang ibu,
karena dikaruniai putra dan putri sepasang.
Jadi teringat,
saat dimana suamiku mendampingi saat
kelahiran putra keduaku.Dia melihat sendiri bagaimana proses kelahiran itu dan
nyawaku sebagai taruhannya.Dia menggenggam tanganku dan berkata “Terima Kasih”.
Ini merupakan proses
perubahan dan pengertian dirinya kepada istrinya, yang dulu waktu kelahiran
putri pertama, dia menunggu diluar bahkan sampai ketiduran karena tidak berani, bangun-bangun sudah disuruh adzan.
Pada 5 tahun kedua ini juga, dengan pilihanku sendiri, aku memutuskan untuk resign dari pekerjakaanku.
Aku yakin dengan pilihan ini dan pasti terbaik untuk keluargaku nantinya.
5 tahun ketiga dan menuju angka ke 16, Alhamdulillah banyak diberikan kenikmatan olehNYA, baik kenikmatan secara lahiriah maupun batiniah.Semoga kami bisa memegang amanah ini dengan baik dan tidak menjadikan kami takabur dan lupa diri. aamiin YRA.
Terima kasih di angka ke-16 ini , hadiah terindah diberikan kepada kami. Sebuah titipan Allah SWT untuk kami. Sebuah rumah sebagai hadiah pernikahan dari suamiku untuk istri dan anak-anaknya.Alhamdulillah dan semoga barakallahu karena itu adalah hasil kerja kerasnya. Aamiin YRA.
Tak terasa, sudah banyak yang kutuliskan disini walaupun hanya dari hal-hal kecil tapi menurutku luar biasa dan tentunya sesuatu yang dapat mewakili dan membuktikan bahwa
Jodoh Tuhan melalui pernikahan itu adalah UNIK.
UNIK nya karena bisa
menyatukan semua perbedaan dengan dilandasi cinta dan kasih sayang. Penuh rintangan dan tantangan.
16 tahun sudah tak
terasa terlewati,Hari ini Rabu, 28 Januari 2015. Aku melewati kebersamaan denganmu mas Han (panggilan sayangku). Banyak suka duka dan hikmah yang kita lewati.
Di angka 16 tahun
ini, akhirnya aku merasa “KLIK” denganmu, mas Han.
Dari beberapa sifat
kelebihan dan kelemahannya, ternyata menutupi kelemahan dan menambah yang
menjadi value ku. Aku seperti menjadi
seseorang yang bermanfaat karenanya. Dukungan, cinta dan kasih sayangnya
menjadikanku sekarang ini, walaupun tidak menjadi seorang yang dikenal ataupun
berkarier mungkin penilaian secara sosial, tapi di posisiku sekarang ini
menjadi Ibu Rumah Tangga, aku bisa bangga dengan diriku sendiri. Aku bisa
merawat dan menjadikan anak-anakku investasiku karena pendidikan dan
pengalamanku.
Kutuliskan dalam
blogku ini, sebagai bentuk terima kasih kepada suami tercintaku atas dukungannya .
Mas Han, terima
kasih, engkau sudah menjalankan kewajibanmu sebagai seorang suami dengan baik.
Dengan kesabaranmu, penuh pertimbangan dam kepandaianmu, aku istrimu bangga dan
tidak salah dengan istikharaku.
Terima kasih Ya
Rabb, atas petunjuk dan tuntunanMU sehingga Engkau buktikan dengan KuasaMU bahwa PilihanMU adalah BENAR.
Alhamdulillah, Allahuma Amiin.
Catatan Kecilku :
Pada saat aku menuliskan cerita ini sampai pukul 01.30 dini hari, mas Han menemaniku dengan setia. Disampingku, dia tertidur pulas, semoga mimpi indah tentunya heheh.....
Alhamdulillah, bukti ridho suamiku akan hobbi masa kecilku ini dan berharap bermanfaat. Aamiin YRA.
Sekali lagi Terima Kasih untuk semuanya, Mas Han. Semoga kebaikanmu terhadapku dibalas dengan kebaikan yang Allah SWT miliki untuk hambanya. Jazakumullah Khairan Katsiran untukmu, suamiku.
Data by www.fimadani.com/10-keutamaan-hari Jum'at
Tulisan by Dian Kusuma Damayanti
Foto by Muhamad Jumhan
Hemmm...mantap sekali tulisan bunda ni...semoga semakin menguatkan ikatan di antara kita, bersama mendidik putra putra kita di bawah naungan ridho Ilahi...
ReplyDeleteAamiin Ya Rabbal Alamiin, Matur Nuwun Pa
DeleteMet ultah pernikahan ke 16 mbak....
ReplyDeletecerita yang indah dan bertahap.
Tahun ini tahun ke 12 saya dan suami. pengen bikin posting khusus tgl 11 Februari ini. hihi...
Jika berkenan, mohon bisa follower blog saya, makasih mbak Susindra.
DeleteTerima kasih ucapannya,salam kenal mbak susindra....Alhamdulillah jika posting ini bisa mjd inspirasi buat posting weeding annivnya tgl 11 febr nanti, ditunggu ya, pastinya banyak pengalaman dan serunya khan...ikut nggak sabar utk membacanya :) *peluk
ReplyDeleteSemoga pernikahannya langgeng ya mak.
ReplyDeleteMatur nuwun mak doanya, InsyaAllah jadi motivasi kami *peluk
DeleteJika berkenan, bisa follower blog saya, makasih mak
DeleteWah, sudah 16 tahun mengarungi bahtera rumah tangga, pastinya tak mudah...semoga saya bisa cepat menyusul hehehheh
ReplyDeletesalam kenal, mampir ya :)
Makasih sudah mampir dan memberi koment, salam kenal juga. Aamiin YRA ikut dukung doa ya smg segera menyusul. :), Jika berkenan mhn bisa follower blog sy ya...
Delete